Selasa, 12 Mei 2015

Keajaiban Al-Qur'an





KEAJAIBAN  AL- QUR’AN   


  • ·      BISMILLAH, Surat AL MUDDATSIR, dan Surat AL INSAN :

    Bismillahirrahmanirrahiim, adalah kalimat pertama dalam Al Qur’an dan sebagai pembuka dari tiap-tiap surat dalam Al Qur’an, kecuali surat ke-9 (QS At Taubah). Kalimat Bismillah tersebut terdiri dari 19 huruf nyata dan 10 macam huruf, yakni “Ba  Sin  Mim,  Alif  Lam  Lam  Hha,  Alif  Lam  Ro  Ha  Mim Nun,  Alif  Lam  Ro  Ha  Ya Mim”.
Bilangan 19 terdiri dari Satu (AHAD) dan Sembilan (KAMIL) sempurna. Jadi dua angka itu sembilanbelas Angka Tuhan. kalau ditambahkan Satu+Sembilan = Sepuluh, Satu+Nol=SATU menjadi AHAD.
Sekarang mari kita lihat tanda yang menyertai huruf juga (19) yakni :
3 titik+3 Sukun+3 Tasdjid+4 Fathah+6 Kasrah=19 seimbangkan dengan huruf dan tandanya Subhanalalah Maha Sempurna.
Kalau kita lihat dari  strukturnya maka terdapat :
3 huruf ALIF
3 huruf MIEM
3 huruf Bertanda TITIK
3 huruf Bersukun
3 huruf Bertasdjid
3 kata Asmaul Adzom+ 2 Asmaul Khusna
( ALLah Rahmaan Rahiim)
Jika dikalikan 3x6=18,  1+8=9 sempurna sekali.
Coba kita lihat 3 titik dalam Bismillahirahmanirrahiim (BA, NUN dan YA )
BA' sebagai pintunya BAITULLOH,  jika sudah masuk kedalamnya akan menemukan,
NUN sebagai NUR CAHAYA ALLOH, Cahaya di atas Cahaya, cahaya yang tidak disentuh Api yang Tidak di Timur dan di Barat sebagai Cahaya langit dan Bumi, dan jika berhasil akan dapatkan :   
YA' sebagai hasilnya YAKIN dengan melampui, ILMUL YAKIN keyakinan berdasar teori atau kajian wacana. AINUL YAKIN keyakinan berdasarkan hasil penelitian. HAQQUL YAKIN keyakinan akibat merasakan, musyahadah. ISBATUL YAKIN keyakinan berdasarkan Ketetapan Qolbu.
Dalam  Surah 74  yakni  Surah Al Muddatsir tentang orang  yang berkemul (berselimut), terkandung  rahasia Allah mengenai keajaiban Al Qur’an dengan bilangan 19, sebagaimana ayat 30 berbunyi “Dan di atasnya ada sembilan belas ”. kemudian dilanjutkan pada ayat ke 31, “Dan tiada Kami jadikan 19 itu melainkan untuk :
-       cobaan bagi orang-orang kafir,  
-       meyakinkan orang-orang yang diberi Al Kitab (Nasrani dan Yahudi),
-       memperkuat (menambah) keyakinan orang yang beriman,
-    menghilangkan keragu-raguan pada orang-orang yang diberi Al kitab dan juga orang-orang yang beriman, dan
-    menunjukkan mereka yang ada dalam hatinya menyimpan keragu-raguan; dan orang-orang kafir mengatakan: “Apakah yang dikehendaki Allah dengan perumpamaan ini?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia. Dan ini tiada lain hanyalah sebuah peringatan bagi manusia.
-       Dalam Bismillahirrahmanirrahiim, yang berjumlah 19 huruf dengan 10 jenis huruf ( 19 dan 10 ) ini juga terdapat pada diri Manusia yakni pada Jari Tangan dan tiap Tangan memiliki 19 ruas. Jika kita telusuri kata manusia maka akan kita dapati pada Surat ke 76 (QS Al Insan) yang berarti Manusia. Mengapa manusia=Al Insan diletakan pada surat ke 76 ? mari kita lihat 76=4x19, dimana 76 = 2 tangan dan 2 kaki dikali ruas. Jadi  : 2x19 + 2x19= 4x19=76, sehingga terlihat 76 sebagai ayat dalam Al Qur’an didalam diri manusia dalam bentuk bilangan. 

  • ·      Hubungan antara Surat AR RAHMAN, LUKMAN dan YUNUS :

 Dalam surat Ar Rahman (QS ke-55) kita temukan ada satu ayat yang diulang sebanyak 31 kali, yakni Fabiayyi ‘ala irobbikuma tukadziban...(Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?), di ayat ini terkandung ‘ni’mat’ coba kita telusuri nikmat yang manakah itu ? maka mari kita  menuju ke Surat 31 disana kita temukan   Surat  Luqman (QS ke-31) dan pada  ke ayat ke 31 dijelaskan  Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebahagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur.”
Sebetulnya ada yang ingin Allah tunjukkan kepada kita. Bahwa bagaimana kapal itu bisa berlayar di laut sesungguhnya adalah satu dari tanda kebesaran Allah dengan bentuknya yaitu berupa nikmat. Dari sana, Allah ingin menunjukkan kepada kita, makhluk-Nya, tentang nikmat dari-Nya. Coba saja, kita yang tidak punya perangkat dalam tubuh kita untuk bisa berjalan di atas air, ternyata kemudian mampu melakukannya dengan perantara alat yaitu sebuah kapal yang mengapung di atas air.

Surat Ar Rahman di dalam Al Quran adalah surat ke-55. Jika  dijumlahkan, maka 5 + 5 = 10, mari kita buka surat ke-10 dalam Al Quran yaitu Surat Yunus, lalu lihatlah pada  ayat ke-10, Subhanallah, kita temukan dalam surat tersebut di jelaskan :
Doa mereka di dalamnya ialah,”Subhanakallahumma” (Maha Suci Engkau, ya Tuhan Kami), dan salam penghormatan mereka ialah, “Salam (salam sejahtera). Dan penutup doa mereka ialah, “Al-hamdu lillahi Rabbil ‘alamin,” (segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam).Siapakah yang dimaksud “mereka” itu? Simaklah  ayat sebelumnya dari ayat tersebut yang berbunyi seperti ini : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, niscaya diberi petunjuk oleh Tuhan karena keimanannya. Mereka di dalam surga yang penuh kenikmatan, mengalir di bawahnya sungai-sungai.”
Dan dalam surat tersebut kita bisa memetik janji Allah, jika kita beriman dan melakukan kebajikan, niscaya Allah akan memberikan petunjuk untuk kita, dan petunjuk itulah yang dinamakan ‘nikmat’. (rauf, 12/05/15).







Wathan Lamhala




CINTA TANAH AIR

P    Pernahkan kita bertanya dan mencari tahu apa makna dibalik kata-kata yang sudah mendarah daging kita ucapakan  atau setidaknya kita pernah mendengar dari dulu hingga sekarang ini, kata itupun tidak asing bagi kita anak-anak Lamhala, tapi seberapa jauh kita memahami isi kandungan dari kata dimaksud, contoh kata : bella telo, kapitan pulo, pegawai lewa; mungkin kita cuma tahu dan kenal bella suku tello sebagai tiga suku penguasa pemerintahan di desa Lamhala, kapitan pulo dan pegawai lema sebagai aparat pelaksana di pemerintahan dengan bidang tugasnya msing-masing. 

Lebih dari itu tahukan kita mengapa bella hanya terdiri dari tiga (3) suku saja, begitu pula kapitan hanya ada sepuluh (10) dan juga pegawai hanya ada lima (5) ?, apa sesungguhnya rahasia dibalik 3, 10 dan 5 tersebut, dan mengapa bukan 2, 12 dan 6, atau 3,8 dan 4 dan seterusnya tapi mengapa hanya 3,10 dan 5, ( bella tello, kapitan pulo dan pegawai lema ). Begitu pula halnya dengan kata Lamahala sebagai nama Desanya ( kampungnya ), 
Jika menilik nama Lamahala mungkin kita juga menemukan ada perbedaan penyebutan yang pada akhirnya juga terbawa hingga penulisannya pada catatan-catatan formal kita mengenal dengan Lamahala, padahal yang benar adalah Lamhala bukan Lamahala, namun berubah menjadi Lamahala dalam penyebutan karena dipengaruhi oleh sebutan bangsa penjajah ( Belanda ) ketika itu yang sulit melafadkan Lamhala sehingga mereka menyebutnya menjadi Lamahala dan akhirnya terbawa hingga saat ini.
Namun terlepas dari itu ada hal yang menarik sebagaimana bella 3, kapitan 10 dan pegawai 5, kita juga pun patut mengetahui mengapa disebut Lamhala? Ini yang menjadi pekerjaan rumah untuk kita mencari tahu makna dibalik semua itu, agar kita anak-anak Lamhala tahu dan mnegenal Lewo secara baik, apalah artinya kita mengaku anak Lewo Lamhala tapi tidak mengenal Lewo secara baik dan benar, bagaimana kita mencintai Lewo kalau kita tidak mengenalnya lebih dalam, bukankah mencintai Lewo adalah juga  sebagian dari Iman.

Selain itu kita juga mendengar dari rumpun suku lainnya seperti : Uli Paa Kae, Lau Lola-Rae Lola, Goran Baka Pito,   Uran  Buang  Goran, dan sebagainya.
Untuk itu mari tite coba sama-sama seba makna dari semua itu, biar tite tidak terus dalam ketidak tahuan hingga generasi selanjutnya.


Wassalam,
Rauf : 12/05/15.
  

Minggu, 03 Mei 2015

Syair Lamaholot





SYAIR LAMAHOLOT
 

Ungkapan yang berisi suatu pesan atau penyampaian  atas  suatu peristiwa dalam bentuk tutur lisan dalam bahasa daerah klasik  yang memiliki makna  sebagai rujukan dalam mengenali  suatu peristiwa .

Berikut ini ada beberapa kutipan yang pernah disampaikan oleh Bapak H. Ibrahim Abong, yang mewakili keluarga Raja Pati Pelang, pada rangkaian acara serah terima Lango Adat Lewaha ( 12/09/1989) dari Bella Tello kepada keluarga Raja Pati Pelang di Desa Lamahala-Adonara-Flores Timur. 

Mio Bella suku Tello kae, Kapitan Pulo, Pegawai Lema moong Ribu Ratu Lein Lau, Werang Rae, Hikung Teti Wanna Lali.


Sesuai dengan Tutu Tenang/Sumpah Janji Bapak Raja Pati Pelang.


WATO LALI JAWA HAKA, WATO MERIK NAM BELAONG, GO BOTE NEIN RAJA TOBO. UA TETI TONU HAU, UA KOTAN NAM BELAONG. GO WAJONG DI HALA, GO KA’ANG NEING RAJA WAJON. GO TOBO TETI KOKKE LOLONG, GO LODO BAUNG LALI TANAH, GO BEDA TOBO SAJA AMA.

LEIN LAU BOTELUMA BURAK, GO KOLO GERE PADAK MADA. WERANG RAE BOKA PADA BARANG, GO KOLO GERE BATU ATU. HIKUNG NA TATAT, WANAN NA GIAT, GO BEDA TOBO SAJA AMA.GO KOI ERU GOENG GOLO, GO KOI GUANG GOENG GIRAK.


Anak Opuk Bella Tello Kae yang kami cintai. Berikut  Goe jelaskan essi kedudukan Bella Suku Tello Kae.



HIKUNG TETI TOBI TAWA, NOON SULONG SUBA RAYA, NOON RERAHAN DIGERE.

WANAN LALI BAO GERE, TAHI TUPAN OLA AMA, NOON NUAN DIHELU.

LEIN LAU MANDULI, MANDULI TUTO AMA, NOON PUANG SAGA RAGET, TALE KABIRABIT, LAU BO KENDERA JAWA, NOON OJOK GOLO.

WERANG RAE SAING GERA, SAING GERA OLA AMA, RAE MASALIGANG SINA, NO’ON DUHAN DIGONOLOR

BELA-BELA INA MALAKALU, NO’ON PUKAN OLA RAE DUA.

UAK TUKAN WAI MATAN, DAN DAKU BOLI AMA, NA MULA AHANA KAWATO, NA HEDAK ITINA TARIA, MULA NO’ON SILI BALA, ADAN NO’ON LIA WADAN.

BOLIMALAKALU TAIN KALUN KURANG TOU NA RATU, NA DEKUNG KING BETI MATAN, NA NOWIN JUAN JURU DEMON, NA GALA LEMA LADIK, NA BALIDA MATAN PITO.


Anak Opuk Bella Suku Tello Kae, Kapitan Pulo, Pegawai Lema No’on Ribu Ratu yang kami muliakan.

Berdasarkan pesan Amanah Bapak Raja Pati Pelang pada saat menyerahkan Kekuasaan kepada Bella Suku Tello   menitipkan Sumpah Setia dalam Syair Lamaholot :


RIBU RATU LEWO GOLE, LEIN LAU WERANG RAE, HIKUT TETI WANNA LALI, MOI DENGA RO GOSUK KAE,

WATO LALI JAWA HAKA, WATO MEREK NA BELAONG, GO TOBO HALA, GO BOTE NEIN RAJA TOBO,

UA TETI TONU HAU, UA KOTAN NA BELAONG, GO WAJONG HALA, GO SOGA NEIN RAJA WAJONG,

TI NA PEHENG SAMPE NA GENNA ANA ONA GERE, TANAH GOSUK EKAN LABOTA, TAHIK TOA WAI GOKA,

BAUK ARAN RUA KANETAR ATA GETA HALA, BE AHAK ATA AHAK HALA, HEKU-HEKU MADAHAN GETA NAMATARA GEWETE NAKEPPO LOLAKA, DAONG LABOTA KAHAN AENG LODO KARING AENG GERE MENAMO TAPO KANO’O ARANG, KEROKO TAWA PERIA GAPA.


Kemudian dilanjutkan dengan pesan terakhir :


GO SOGA GERE KAE WITE, BAUK ARAN RUA MO PANA MATAN MOIRO, ATU GOENG TOLORA, NIHA GOENG TOBAN NA MO MAJAN RIBU RATU BETO BATU ATU GOENG, TOBENG NIHA GOENG.

LANGO GOENG BI’A BUTAKA, MO MAJAN RIBU RATU BETO HONE LANGO GOENG, TI GO GERE KETTE GO BEDA TOBO SAJAN AMA.



Anak Opuk Bella Suku Tello Kae, Kapitan Pulo, Pegawai Lema, yang kami muliakan :


NUAN NABE ONA MARIRO KAE, RIBU LEIN NAPILAU, RATU WERAN NAPIRAE, BUKA MATAN MA’AN LILE, PETAN ONAK MA’AN TEDA, NIHA GOENG DIMIO TOBERO KAE, ATU GOENG DIMIO BOTIRO KAE, GO UMAN TUKAN RAE KAI, GO TOBO POLE PAI PETAN, KO’ON MIO BELLA SUKU TELLO KAE MO’ON RIBU RATU LEIN LAU, WERAN RAE, MIOLA GENG MA’AN BOHU, MIO HERRE MENU MA’AN SEBBA.


Anak Opuk Mio Bella Suku Tello mo’on Ribu Ratu wahan kae, yang kami hormati.

Secara Ikhlas saya mencoba mengangkat suatu masalah :


TUN TUEN WULAN BALIK, GO TOBO PETAN KO’ON KODA, NUAN PAI HAMA LELA, GO TOBO PAE KO’ON KIRIN, AKU KODHAN TEPALATE, TI GO SEDAN  DEING WELLI GEKKO NO’ON DERANG, AKU KIRIN TEGA RARA, GO KAI TOBO WELI LONEK NO’ON BURAK,

GO RAJA PATI PELANG, PELANG BUANG SUDI BUTA BETTA WALLANG MARA, GO SEDAN ULI PAKAN MAKA, GO GERE HADUNG TETI KOKER, GO LODO TOBO LALI TANAH, GO TOBO ATA TODOK HALA, GO GAWE ATA WALENG KURAN, KODA NABE HEKKANA, KIRIN NABE ONAK DEINA.



TUTU TAPANG KODA BAPAK RAJA PATI PELANG;

Kame teti Komolu lodo, kame beto no’on Nuba, Bua no’on Nara, Mo’ong no’on Nobhok, Mo’ong no’on Nitun no’on Kawelonk, Mo’ong no’on Bale’ek no’on Kokar.

Sabtu, 02 Mei 2015

MASUKNYA ISLAM DI LAMAHALA



                                                                                                                                                 Mesjid Jami Al Ma'ruf Lamahala



MASUKNYA AGAMA ISLAM DI LAMAHALA
Oleh : H. Syamsudin Abdullah

Untuk dapat maemberikan gambaran tentang sejarah masuknya agama Islam di Lamahala -+ abad 14. Baik sebagai akibat dari adanya mubalig Islam yang menyebar agama Islam bagi bangsa Indonesia umumnya dan Lamahala Flores Timur khususnya.
Sejak abad ke-14 agama Islam masuk di Lamahala dibawah ole pedagang Islam dari semenjanjung Malaka, Pulau Andalas (Pulau Sumatera) dan Pulau Jawa dan Cina, penyebaran ini disebut EXPEDISI SINA JAWA. Kemudian berbicara mengenai masuknya agama Islam di Lamahala Flores Timur, berarti terlebih dahulu mengenal nama-nama Mubalig yang membawa agama Islam itu dan dari mana tempat asalnya, dan ciri-ciri khas apa yang menjadi pendukungnya sehingga dapat diyakini atas kebenarannya. Sebagaimana sabda Rasulullah S.A.W, “ Balligu Anni Walau Aayat” (sampaikanlah kepadaku walaupun satu ayat).
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa didalam tulisan masuknya agama Islam di Lamahala ini masih terbatas pada kondisi global yang dapat penulis tangkap baik melalui cerita-cerita rakyat, studi kepustakaan, hasil wawancara dan tatap muka dengan tokoh-tokoh yang penulis anggap memiliki informasi sejarah Islam maupun sejarah penalaran dan  pengetahuan yang penulis miliki dalam membahas dan mengkaji kisah-kisah dalam tulisan ini.
Dibawah ini penulis mencantumkan nama-nama pedagang dan mubalig dari tempat asalnya antara lain :

 1. RAJA PATI PELANG  ( FATAHUDDIN) berasal dari negeri Batak, Puak Lali Muara yang artinya tempatnya Lali Muara. Expedisi Raja Pati Pelang dengan membawa perahu Paledang bernama BAGA bahasa Batak artinya Cantik Molek. Berlayar meninggalkan danau Toba mengarungi lautan menuju Indonesia Timur   tiba di Flores Timur menanti angin dan arus kemudian menerima 2 (dua) orang dari Flores Timur yang bernama Igo dan Wotan Ulumando menaiki perahu itu dan akhirnya expedisi Raja Pati Pelang tiba di Lamahala dengan selamat dan menempati tempat yang dipandang cocok diberi nama istana Al-Wahar.
Tempat kedudukan Raja Pati Pelang rumah adatnya di rehab kembali dan sekarang masih dijaga oleh anak cucunya atau ahli warisnya. Raja Pati Pelang nama panggilannya adalah FATAHUDDIN bahasa arab artinya Pembukaan Agama. Jadi dengan data ini dapat diambil kesimpulan dalam pemahaman bahwa mula-mula masuknya agama Islam di Lamahala di bawa oleh Raja Pati Pelang (Fatahuddin) berasal dari Andalas (Sumatera) puaknya suku Batak.

2. RAJA SIRA DEMONG (SIRAJUDDIN), berasal dari pulau Samosir marganya Siregar Jalan Asam Kandis, expedisi Raja Sira Demong dengan membawa perahu Lete-lete (Sope) bernama Tena Wulung Kumhang arti dari bahasa Indonesianya yakni perahu yang cat dilehernya berwarna Kuning melambangkan kemuliaan dan ketinggian derajat dan martabat seseorang dari tempat asalnya serta melambangkan kesucian jiwa dalam menyebarkan Dinul Islam ditempat mana yang cocok dengan ide dan cita-citanya, kemudian berlayarlah Raja Sira Demong meninggalkan pula Samosir mengarungi lautan luas menuju Indonesia Timur dan tibalah didaratan pesisir pantai Omesuri pelabuhan kampung Ramu berdekatan dengan desa Dulolong dan terdapat sebuah perigi/sumur yang bernama Waibelaon.
Raja Sira Demong tinggal beberapa tahun di Waibelaon namun rupanya ditempat tersebut tidak cocok dengan ide dan cita-citanya maka expedisi Raja Sira Demong berpindah tempat dengan berlayar menuju tanah Adonara. Alhamdulillah expedsi Raja Sira Demong tiba di Lamahala dan menetap di sana pada lokasi yang ia tinggal itu diberi Suku Tobi, dan nama tersebut tidak terlepas dari tempat asalnya pulau Samosir Jalan Asam Kandis.
Sira Demong nama panggilannya Sirajuddin bahasa Arab artinya pelita agama lebih tepat lagi disebut penerangan agama, karena fungsi beliau adalah mubalig Islam, aktif mengajarkan Al-Qur’an kepada umat Islam dalam suku itu sehingga nama Sira Demong mendapat julukan dengan panggilan JOU DEMONG (gurun ngaji), sekitar abad 14-15. Tidak lama kemudian datanglah expedisi dari Kawela yaitu rombongan Holokopong Namang Suku Lamuda, setibanya di Lamahala menggabungkan diri menjadi satu keluarga Suku Tobi Lamuda di bawah pimpinan Sira Demong (Jou Demong), dan menurunkan keturunannya sampai sekarang. Bahasa klasik Lamaholot mewujudkan suatu keluarga besar berbunyi Tobi Wun Bella Muda Kajak Aja, artinya buah asam pohonnya besar, limau buahnya banyak. Ini adalah kata klasik menunjukan suku Tobi Lamuda adalah gabungan dari beberapa suku pendatang dileburkan menjadi satu suku besar dan masyarakatnya yang banyak, mendiami suku Tobi Lamuda dan Jou Demong adalah Guru Besar dan banyak muridnya. Tugas adat dalam suku menjabat Kapitan Namang Tukang untuk mnenghadiri siding bersifat adat.

3. MUBALIG JAFAR ATAJAWA, menghayati akan nama Jafar Ata Jawa hal ini telah menunjukan suatu pengertian yang konkrit bahwa beliau berasal dari Jawa kerajaan Islam Demak, keturunan salah satu dari Walisongo yaitu silsilah keturunan dari Jafar Sadik. Mubalig ini bersama dengan expedisi Ratu Silimeda di Lembata=Awololon, dengan tujuan mendirikan kerajaan islam di Awololon (belolu), rupanya malang tak dapat ditolak pada lokasi awalolon mendapat bencana tanah tenggelam ke dalam laut maka tempat bencana itu diberi nama Lewoleba dengan pengertian Lewo artinya kampung dan Leba artinya tenggelam. Jadi nama Lewoleba sampai sekarang yaitu tempat bekas tanah tenggelam dalam dasar laut.
Akibat peristiwa bencana tanah tenggelam maka kerajaan Islam Lembata runtuh tenggelam tidak ada bekasnya. Dalam kepanikan peristiwa bencana itu Jafar Ata Jawa berkesempatan berusaha meloloskan dirinya dengan menaiki perahu bernama Urin Buran artinya pada buritan bercat warna putih berlayar menuju selat solor, akhirnya tiba dengan selamat dipesisir pantai Lamahala dan menetap di Lamahala pada lokasi Suku Wutun dengan nama Suku Lamakedanga. Dalam penyebaran islam Jafar Ata Jawa berfungsi sebagai staf syara’ membidangi tugas sebagai Muazzin di mesjid yang pertama kali memanggil orang datang melaksanakan sholat lima (5) waktu ( subuh, dohor, ashar, magrib dan isya ). Disamping itu juga ia berfungsi menguruskan jenasah dari mayit,bungkussholat dan kubur. Dan tugas yang diemban oleh Jafar Ata Jawa ini diwarisi oleh anak keturunannya sampai sekarang. Jafar Ata Jawa menurunkan keturunanya yaitu tiga(3) orang putra dan seorang putrid yang masing-masing bernama ANA KODA SEBANDAR AMANG, BAPAK BANAK KAMANG, KHATIB ABON NAMANG dan KEWAEKINDA.

PENYEBARAN ISLAM OLEH PEDAGANG DAN MUBALIG DARI NEGERI CINA

Expedisi dari negeri Cina adalah LEMPE dan LANGKO serta SEBANDA PITOKAE. Mereka mengarungi laut cina dengan perahu Budi Baik, nama perahu itu adalah salah satu sifat khas orang cina   bermata sipit, itu diambil dari kepustakaan S. Gordon Readding, mengatakan diantaranya memperhatikan Utang Budi.
Sejak abad ke 7 di jaman Sriwijaya bahkan mungkin juga sesudahnya telah terjalin hubungan antara Cina dan Nusantara, orang Cina dikenal sebagai pedagang. Dari pantai Cina mereka berlayar dengan angin Muson Timur laut, pedagang Cina datang ke Indonesia untuk membeli Tripang, sarang burung, kulit kerang, cendana dan dari Cina mereka membawa porselin, sutra dan the. Mereka berlayar mengikuti angin muson tiba diperairan selat Solor menuju pesisir pantai Lamahala, salah satu pesisir dari Solor Watan Lema. Kehadiran expedisi Cina ini disambut oleh keluarga Mau Duli langsung turun ke darat dan menempati suatu lokasi diberi nama Suku Sina artinya kehadiran mereka berasal dari negeri Cina. Dalam sejarah perkembangan Islam dahulu kaitan Cina dengan Islam sangat dekat. Contoh Raja pertama kerajaan islam Demak Raden Patah sebenarnya orang cina bernama Seno Pati Jin Bun. Beberapa catatan sejarah menerangkan bahwa ada wali songo itu orang Cina. Dengan demikian antara cina dengan orang islam dan golongan pribumi dahulu pernah berada dalam satu kesatuan yang cukup akrab. (Siswono Judohusono hal. 62). Hal ini membawa dampak positif bagi perkembangan penyebaran Islam di Indonesia umumnya dan Lamahala Flores Timur pada khususnya.
Dengan menunjukan perbedaan cirri khas orang Cina dan Jawa berpedoman pada sebuah syair klasik Lamaholot yaitu SINA IPA BURA JAWA MAHABANGO artinya orang cina pada umumnya giginya putih bersih, orang jawa klentongnya berlidah telor. Pada expedisi dari cina ini sudah banyak melanjutkan keturunan dari dahulu sampai sekarang dari generasi ke generasi selanjutnya. Berpijak pada sejarah penulis sajikan ini maka perjalanan asalnya sampai tinggal menetap di Lamahala disebut penyebar Islam dari SINA JAWA.

PENYEBARAN ISLAM DARI SULAWESI yakni IMAM ATA KOJA

Imam Ata Koja adalah seorang mubalig islam dari Bugis Makasar tiba di Lamahala berdomisili, berdkwah dan mengajarkan agama islam berupa ibadah dan muamalah pada umat islam sedesa Lamahala. Untuk sementara Imam Koja numpang dengan Jou Sirademo, sama-sama member dakwah Islam. Dan ditugasskan sebagai Imam untuk melaksanakan sholat jamaah pada setiap waktu dan sholat jamaah pada hari jumat.
Untuk membenarkan dan meyakinkan bahwa Imam Ata Koja itu orang bugis Makasar karena beliau menggunakan bahasa bernama JENE dengan maksud mengambil air wudhu untuk sholat. Padahal Jene artinya air dalam bahasa Bugis Makasar atau Jene Bambang. Dan nama lain lagi yaitu KARAENG yang artinya Orang Bangsawan, dll. Kata-kata ini menerangkan dan menunjukan bahwa penyebar agama tersebut adalah benar orang Bugis Makasar sekitar abad ke-14. Penyebar Islam yang lain dari Sulawesi seperti :
-          KESULTANAN  BUTON, bapaknya Ratu Loly sekitar abad ke-15
-          SENGAJI BONTO yang menjadi Raja pertama di Lamahala pada kurun waktu di zaman Portugis sekitar 1520 – 1613
-          SWAUDDIN yang menjadi Raja kedua di Lamahala pada kurun waktu di zaman Belanda tahun 1613 – 1888, bertepatan dengan penyerangan Kapal GONTA oleh Kapten/Kapitan BELAE, dimasa pemerintahan Resident GREEVE, ada juga Kapal PRINSHENRIC dan Kapal NEDERLAND, yang oleh penulis menyebutnya dengan Expedisi penyebaran Islam dari BUGIS MAKASAR.

PENYEBARAN ISLAM DARI MALUKU Oleh H.SYAID SERAN

Beliau adalah Mubalig Islam yang tiba di Lamahala pada abad ke-16, expedisi H. Syaid Seran ini membawa perahu bernama SAPINAHTU SYARKIYAH yang artinya Perahu dari Timur. Berlayar meninggalkan kota Seran mengarungi lautan Maluku menuju pulau Wetar menembus selat Munaseli menuju pulau Lembata dan berlayar bersama arus Wato Woko lewat selat Boleng akhirnya berlabuh di Wato Buku tanjung Lamakera, beristirahat menjelang Subuh untuk menuaikan sholat Shubuh.
Tidak lama kemudian datang sebuah perahu dari Lamahala yang dipimpin oleh seorang Nahkoda bernama KABIDALOTAMA, asal Lamahala yang disuruh oleh Imam Ata Koja untuk menjemput expedisi H. Syaid Seran dan diterima oleh Imam Ata Koja dan Jou Sirademo. Dalam suasana syahdu mereka (  pihak H. Syaid Seran dan Imam Ata Koja ) berdiskusi dan berdialog tentang Ibadah dan Muamalah serta hokum-hukum Islam dan semuanya sama-sama memiliki ilmu Syariat tersebut. Hanya kelebihan dari H. Syaid Seran adalah telah menunaikan Ibadah Haji dan diperkirakan beliau berasal dari Arab karena dimasa itu belum ada orang Indonesia yang pergi Haji.
H. Syaid Seran menyambung penyebaran Islam di Lamahala dan menetap pada suku Seran. Beliau sekaligus bertugas memimpin Jamaah sebagai Imam Besar di Mesjid Jami Al-Ma’ruf Lamahala menggantikan Imam Ata Koja, karena Imam Ata Koja berhijrah keluar ketempat lain dengan maksud dan tujuan untuk menyebarkan agama islam pada tempat-tempat yang belum menerima dak’wah Islam.

PENYEBARAN ISLAM DARI BANDA NAIRA oleh PATI RAJA

Beliau adalah Mubalig Islam yang tiba di Lamahala pada abad ke-16, dan menetap di Lamahala mengambil tempat yang diberi nama SUKU WADAN. Pati Raja kemudian diberi jabatan sebagai pembantu Imam apabila Imam H. Syaid berhalangan atau bepergian keluar ke tempat lain. Dan tugas ini menjadi tanggung jawab staf Syara yang berlaku sampai sekarang.
Berpedoman pada penjelasan yang penulis sajikan ini maka Expedisi ini disebut penyebar agama Islam dari AMBON LODO. Sebagaimana syair Lamaholot mengatakan SERAN RERA GERE, WANDA NUAN TAWA, artinya : Pulau Seran dan pulau Banda terletak pada arah Matahari terbit dibagian Timur.
Menyusul penyebaran dari pulau Jawa yakni   mubalig Islam bernama HASAN MARTAWI dari Batavia dan seorang Guru (Ulama) yakni MUHAMMAD AHMAD MUSTAFA ATA SYAID dari bangsa Arab. Keduanya tiba di Lamahala sekitar abad ke-17, dan menetap di suku ATAPUKAN. Keseharian mereka melakukan kegiatan pengajian agama Islam secara Ta’lim.
Hasan Martawi dan Muhammad Ahmad Mustafa Ata Syaid tidak menurunkan keturunan. Hanya menempatkan tempat sebagai tanda makamnya yakni untuk Hasan Martawi, tempatnya di NOBO PUSAT NAMANG TUKANG, dan Muhammad Ahmad Mustafa Ata Syaid, tempatnya di atas ILE TOBITURU yang paling ujung arah dari arah selatan, tanda kuburnya dengan batu KULLA dan batu BIRI. Makam tersebut sampai sekarang masih secara nyata.
Demikian beberapa Expedisi penyebar agama Islam yang masuk di Lamahala sebagai awal perkembangan agama Islam. Dan perlu dihayati oleh masyarakat Lamahala sejak awal dan tumbuh sampai sekarang tidak ada campuran agama non Islam yang tinggal di Lamahala. Yang ada mungkin hanya bertugas sebagai Guru dan setelah selesai tugas sebagai guru maka kembali ke Waiwerang atau ke tempat lain.
Bersambung………..